SATU TAHUN NTB GEMILANG, Ekonomi Bersinar, Kemiskinan Memudar



MATARAM-Hari ini, genap satu tahun Gubernur NTB H Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur Hj Sitti Rohmi Djalilah berkhidmat memimpin Bumi Gora. Memulai memimpin dengan kondisi NTB yang baru dilanda gempa, Zul-Rohmi tak menyiakan waktu untuk menyalakan obor kebangkitan. Hasilnya, ekonomi NTB satu tahun terakhir tumbuh sangat baik. Angka kemiskinan yang semula naik drastis, malah menurun. Angka ketimpangan atau gini ratio juga membaik. Pun Indeks Pembangunan Manusia terus meningkat.

Sejak awal Gubernur H Zulkieflimansyah menyadari, memimpin daerah bersama bersama Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah, dirinya tak memiliki kemewahan berdamai dengan waktu. Karena itu, kata Gubernur, bekerja cepat adalah sebuah keharusan.

Kendati begitu, pria kelahiran Sumbawa yang 14 tahun menjadi Anggota DPR RI pun tahu persis, betapa di Bumi Gora, terbuka ruang untuk melakukan perbaikan. Banyak hal yang mesti dibenahi. Dan kata Gubernur, semuanya membutuhkan kerja yang tidak biasa.

Maka Gubernur dan Wagub pun memompa semangat jajaran birokrasi. Ditambah dukungan berbagai elemen masyarakat, pasangan Zul-Rohmi pun mendedikasikan tahun pertama pemerintahannya sebagai penggerak langkah dalam menyongsong momentum kebangkitan. Keduanya memacu mesin pembangunan di berbagai lini. Dengan panduan enam visi NTB Gemilang yang merupakan program strategis.

Enam program strategis tersebut yakni program pariwisata andalan dan strategis, program industrialisasi, program pengembangan daya saing SDM, dan program NTB ramah investasi. Selain itu ada juga program pengembangan konektivitas dan aksesibilitas wilayah, serta program NTB bersih dan berkelanjutan.

Kepala Bappeda NTB Wedha Magma Ardhi kemarin (18/9) mengungkapkan, NTB kini sungguh-sungguh berada di trek yang benar. Dari 15 indikator capaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, seluruhnya menunjukkan trend yang positif.

Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTB ini mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa pertambangan pada semester pertama tahun ini telah mencapai 5,35 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut berada di atas angka pertumbuhan ekonomi secara nasional. Pun juga soal angka kemiskinan.

Bencana gempa yang melanda NTB tahun lalu menjadikan Bappenas sedari awal memprediksi bahwa angka kemiskinan di NTB akan melonjak. Sudah ada memprediksi Bappenas bahwa setidaknya 100 ribu orang miskin baru akan muncul di NTB. Namun, kenyataan berkata lain. Dua kali angka kemiskinan yang dirilis BPS, yakni pada akhir 2018 dan Maret 2019, terlihat bahwa angka kemiskinan di NTB bukannya bertambah. Malah sebaliknya turun. Pada September 2018, angka kemiskinan di NTB mencapai 14,63 persen dari populasi. Sementara pada Maret 2019, angka kemiskinan NTB turun menjadi 14,56 persen.

Demikian pula inflasi. Juga stabil. Angka inflasi hingga pertengahan 2019 ini berada pada posisi 3,39. Angka tersebut berada pada rentang target dimana inflasi tahunan ditargetkan berada pada angka 3 hingga 4.

Indeks Pembangunan Manusia NTB juga meningkat. Pada tahun lalu IPM NTB berada pada posisi 67,3 poin. Dan tahun ini ditargetkan akan naik menjadi 68,07 poin. Pun begitu dengan indeks kebermanfaatan infrastruktur. Naik dari angka 74,6 tahun lalu menjadi 74,99.

“Ini pencapaian baru dihitung hingga pertengahan tahun 2019. Angka ini akan berubah di akhir tahun,” kata Ardhi. Perubahannya tentu ke arah yang positif.

Angka-angka lain juga menunjukkan hal yang sama. Seperti indeks kualitas lingkungan hidup yang meningkat dari 57,03 menjadi 57,53. Indeks pelayanan publik juga merangkak dari 97,68 menjadi 97,78. Sementara indeks reformasi birokrasi dari nilai CC tahun lalu kini telah menjadi BB.

Sektor Perhubungan

Sementara itu, Ardhi juga menjelaskan capaian dari sejumlah sektor pembangunan. Seperti sektor perhubungan. Sedari awal, Gubernur dan Wagub kata Ardhi menaruh perhatian yang besar dalam hal konektivitas dan mobilitas.

Dua hal tersebut kata pria berkacamata ini, merupakan hal yang tak terpisahkan. Seperti dua sisi pada satu koin. Dan sektor ini ditegaskannya, merupakan fondasi dari program industrialisasi dan kepariwisataan, dua program utama yang dimiliki NTB untuk mewujudkan NTB Gemilang.

“Walau baru setahun, NTB sudah berhasil membuat beberapa terobosan gemilang dalam meningkatkan konektivitas dan mobilitas,” tandasnya.

Capaian di sektor ini antara lain yakni fasilitasi pemerintah untuk rute penerbangan dari Lombok ke Perth, Australia, dan sebaliknya. Rute penerbangan ini dilayani maskapai AirAsia sejak 9 Juni 2019. Rute ini telah menjadikan angka kunjungan wisatawan asing ke NTB asal Australia melonjak drastis.

Dalam enam bulan pertama, diperkirakan, angka kunjungan wisatawan asing dengan penerbangan ini bisa mencapai 23 ribu orang. Perputaran ekonomi dari kedatangan wisatawan asing ini pun sangat besar. Diprediksi bisa mencapai angka Rp 400 miliar.

Pemerintah juga memfasilitasi rute penerbangan Lombok-Jeddah. Rute ini dilayani oleh maskapai Lion Air. Resmi mulai beroperasi pada September 2019 ini. Penerbangan ini sementara hanya akan melayani jamaah umrah dari NTB. Sehingga, jamaah umrah dari NTB, tak lagi harus transit di daerah lain terlebih dahulu saat ke Tanah Suci.

Masih di sektor perhubungan, Ardhi juga mengungkapkan, fasilitasi pemerintah untuk operasional long distance ferry rute Surabaya-Badas dan tambahan lagi untuk Surabaya-Lembar. Juga fasilitasi fast boat rute Badas-Pulau Moyo. Termasuk fasilitasi perluasan wilayah operasi KM. Komodo milik ASDP dari hanya di Lab Bajo menjadi ke Destinasi di NTB.

Pemprov NTB juga bergerak menuntaskan persoalan aset mangkrak terminal Haji di kompleks Lombok International Airport. Aset ini telah dijadikan arena pelatihan Pre-departure dan training bagi buruh migran Indonesia asal NTB.

Sektor Perekonomian

Di sektor perekonomian, ditandai dengan pengembangan industri pengolahan di sektor kelautan dan perikanan. Ini memang menjadi salah satu prioritas dalam program unggulan NTB Gemilang dalam bidang ekonomi.

Pengakuan atas kinerja perekonomian pun didapat NTB. Antara lain dengan meraih penghargaan sebagai TPID Provinsi Terbaik Nasional 2019 wilayah Nusra, Maluku dan Papua. Penyerahan trofi dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta pada 25 Juli 2019.

Jika tak ada aral melintang, hari ini, Pemprov NTB juga akan melaunching Tim Promosi Ekonomi Daerah (Regional Economic Promotion Team/REPTeam). “Ini kerja sama Biro Ekonomi, Bank Indonesia,” kata Ardhi.

Pada hari ini pula, direncanakan ada pencanangan 1.000 Enterpreneur Muda kerja sama Biro Ekonomi dengan Bank NTB Syariah dan Dinas Koperasi dan UMKM NTB.

Masih terkait dengan perekonomian, Ardhi juga menjelaskan kinerja satu tahun NTB di sektor investasi. Diungkapkannya, NTB Ramah Investasi merupakan salah satu program unggulan dalam RPJMD NTB tahun 2019-2o23. Program ini diwujudkan dalam bentuk pemberian berbagai kemudahan dan fasilitas investasi hingga pemasaran. Dimulai dari kebijakan penyederhanaan prosedur dan regulasi perizinan. Juga kemudahan persyaratan, waktu pemberian izin, hingga penyediaan fasilitas lainnya.

Sejauh ini, NTB menjadi salah satu provinsi yang telah menerapkan layanan perizinan secara elektronik melalui Online Single Submission yang lebih mempermudah para investor atau masyarakat untuk mengakes layanan ijin usaha atau investasi.

Secara keseluruhan, izin dan non izin yang telah dikeluarkan pada tahun 2018 mencapai 4.236 dokumen. Terdiri dari 4.182 izin dan 54 non izin. Sementara untuk tahun 2019 hingga pertengahan tahun, telah mencapai 1.721 izin dan 18 non izin.

“Pemerintah juga telah membentuk Tim Satuan Tugas Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal,” kata pria yang juga pernah menduduki jabatan Asisten II Pemprov NTB ini. Pembentukan Satgas ini adalah amanat Peraturan Daerah NTB Nomor 3/2015 tentang Penanaman Modal.

Dari sisi capaian realisasi investasi, telah terjadi peningkatan yang signifikan. Pada 2018, investasi tercatat Rp 15,781 triliun. Meningkat dari capaian tahun 2017 sebesar Rp 11,280 triliun. Kalau dipersentase peningkatan nilai investasi tersebut mencapai 39,90 persen.

Sedangkan untuk capaian realisasi investasi tahun 2019, enam bulan pertama tahun 2019, mencapai Rp 4,081 triliun. Terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri Rp 2,610 triliun, dan Penanaman Modal Asing Rp 1,471 triliun.

Sektor Perdagangan

Capaian positif juga ada pada sektor perdagangan. Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB H Najamuddin Amy secara terpisah menjelaskan, di sektor perdagangan, Pemprov NTB sampai dengan September 2019 telah membukukan capaian yang positif.

Antara lain sejumlah hal yang telah dilakukan adalah pembagian sembako bagi masyarakat miskin dan lansia. Pembagian ini menyasar lansia di kabupaten/kota. Total pembagian sembako telah mencapai 6.150 paket.

“Tujuannya untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan memberi nilai tambah tinggi,” kata Najamuddin.

Dalam hal peningkatan jumlah UKM, Najamuddin juga mengungkapkan capaian di sektor perdagangan ini. Komoditi NTB yang masuk ke portal online i-shopntb.com di bulan September tercatat 58 UKM yang memasarkan produknya menggunakan i-shop. Peningkatan ini menjadikan transaksi juga melonjak signifikan.

Sementara untuk pasar murah, digelar secara rutin untuk memastikan adanya pengendalian ketersediaan stok kebutuhan pokok dan kestabilan harga barang kebutuhan pokok.

“Tingkat inflasi kita juga stabil,” kata Najamuddin. Angka inflasi NTB berada di bawah angka inflasi nasional.

Kestabilan tingkat inflasi itu menjadi gambaran bagaimana ekonomi NTB yang memang terus tumbuh dan membaik di tengah tren pertumbuhan ekonomi nasional yang stagnan dan tren pertumbuhan ekonomi dunia yang anjlok. Tahun ini, ekonomi dunia bahkan diperkirakan hanya akan tumbuh di angka tiga persen.

Di bidang perindustrian, Najamuddin mengungkapkan, kondisi industri NTB saat ini yang masih didominasi poduk primer. Industri pengolahan terbatas dan pengaruh industri terhadap perekonomian masih kecil yaitu berkisar 4 sampai 5 persen.

Itu sebabnya, NTB menyiapkan program industrialisasi. Program ini dihajatkan agar bahan mentah bisa diolah di NTB menjadi bahan setengah jadi atau barang jadi. Sehingga, diharapkan di NTB akan berkembang industri olahan.

“Industri akan menjadi pendukung ekonomi NTB,” tandas kandidat doktor dari Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Capaian-capaian di sektor industri ini sejauh ini kata Najamuddin mewujud dalam bimbingan pengolahan pangan seperti kopi, garam, rumput laut, sayur dan buah, pakan ternak, ikan dan kakao. Total 135 industri kecil dan menengah (IKM) telah mendapat bimbingan ini. Pemerintah juga kata dia telah memfasilitasi IKM olahan pangan terkait sertifikasi halal. Total ada 150 IKM yang mendapat manfaat.

Sementara untuk pendampingan terhadap pengolahan non pangan seperti kerajinan tenun, fashion, sebanyak 40 IKM telah mendapat bimbingan teknis. Termasuk 50 IKM untuk peningkatan mutu kemasan olahan pangan.

Sementara untuk tenaga kerja yang mendukung permesinan sudah dilatih dalam rangka mempersiapkan tenaga ahli di bidangnya, sebanyak 94 IKM. Paralel dengan fasilitasi sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja di bidang permesinan, sebanyak 94 IKM.

Khusus untuk fasilitasi peralatan pengolahan pangan, saat ini telah difasilitasi 222 IKM. Sedangkan program inkubasi bisnis berupa “sekolah wirausaha baru” selama 2 tahun, telah melibatkan 20 IKM.

“Saat ini sedang dalam proses pembelajaran,” ungkap Najamuddin.

Khusus untuk program rintisan produksi mesin dan rintisan karoseri truk, saat ini dalam tahap pembelian material pabrikasi.

Dan di luar hal tersebut, terwujudnya pembangunan smelter dan industri turunannya di Sumbawa Barat, akan menjadi capaian yang amat penting program industrialisasi ini. Industri smelter ini direncanakan akan memiliki kapasitas untuk mermurnikan dua juta ton konsentrat setahun. Konstruksi ditargetkan selesai akhir 2021. Dan akan memiliki kapasitas pengolahan tahap pertama 500.000 ton per tahun. Kawasan industri ini akan berada di areal seluas 850 hektare.

Produk smelter ini akan berupa tembaga, slag, asam sulfat, gypsum, perak, selenium, dan emas. Sementara industri turunannya akan berupa industri plat tembaga, kabel, pupuk, dan industri kimia lainnya.

Najamuddin mengungkapkan, dukungan yang diperlukan saat ini adalah alih fungsi pelabuhan Benete dan Labuhan Lalar, pembangunan Politeknik Pertambangan, pengembangan BLK dan SMK, serta pembangunan pembangkit listrik kurang lebih 500 MW. (kus/r6)

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © infontbnow. Designed by OddThemes